Kuliner

Resep Tom Yam Seafood

Berikut ini bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan Tomyam Seafood. Harap perhatikan baik-baik jumlah takarannya ya, agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Bahan Yang Dibutuhkan

100 gram udang, kupas
100 gram cumi-cumi, potong melingkar, sayat
100 gram kakap fillet, potong jadi 4
10 butir bakso ikan, belah jadi 4
10 buah jamur kancing, belah jadi 2
100 gram tofu, belah jadi 2, potong 2 ㎝;
3 batang daun bawang prei, potong 1 ㎝;
10 lembar daun ketumbar untuk taburan

Bumbu

4 butir bawang merah, memarkan
5 siung bawang putih, memarkan
½ buah bawang bombay, cincang
1 sdt saus tiram
1 sdt ketumbar
½ sdt merica halus
1 sdt gula
1 sdt garam

Bahan Pelengkap

3 buah tomat, haluskan, saring
8 buah cabe keriting, haluskan
4 lembar daun salam
5 ruas jari serai, memarkan
6 lembar daun jeruk
3 ruas jari jahe, memarkan
3 batang daun seledri
kepala dan kulit udang, giling kasar
tulang kakap
1 liter air

Cara Membuat

Buat kaldu dengan merebus air hingga mendidih. Masukkan semua bahan pelengkap, aduk rata. Masak hingga bumbu meresap dan tulang kakap serta kepala udang matang, saring.
Tumis bawang putih, bawang merah, dan bawang bombay hingga harum dan layu, tuang ke dalam air kaldu yang sudah dibuat, lalu didihkan.
Masukkan semua bahan seafood dan bumbu lainnya, masak hingga meresap dan matang, angkat, sajikan dengan taburan potongan daun bawang prei dan daun ketumbar.

Tips

☑ Memasak seafood tidak perlu terlalu lama karena akan membuat dagingnya alot / liat dan rasanya hilang. Cukup beberapa saat saja dan jika dirasa sudah matang, segera matikan api.

Source : reseprecipe.com/tomyamseafood.html

Language Testing

Bloom’s Taxonomy

New Version In 1956, Benjamin Bloom headed a group of educational psychologists who developed a classification of levels of intellectual behavior important in learning. During the 1990’s a new group of cognitive psychologists, lead by Lorin Anderson (a former student of Bloom), updated the taxonomy to reflect relevance to 21st century work. The two graphics show the revised and original Taxonomy. Note the change from nouns to verbs associated with each level.

Remembering: can the student recall or remember the information? define, duplicate, list, memorize, recall, repeat, reproduce state
Understanding: can the student explain ideas or concepts? classify, describe, discuss, explain, identify, locate, recognize, report, select, translate, paraphrase
Applying: can the student use the information in a new way? choose, demonstrate, dramatize, employ, illustrate, interpret, operate, schedule, sketch, solve, use, write.
Analyzing: can the student distinguish between the different parts? appraise, compare, contrast, criticize, differentiate, discriminate, distinguish, examine, experiment, question, test.
Evaluating: can the student justify a stand or decision? appraise, argue, defend, judge, select, support, value, evaluate
Creating: can the student create new product or point of view? assemble, construct, create, design, develop, formulate, write.

http://ww2.odu.edu/educ/roverbau/Bloom/blooms_taxonomy.htm

10 Film Pilihan Saat Hujan Rintik, Berkencan, Hingga Patah Hati

Hal yang tak bisa lepas dari rutinitas orang saat ini adalah menonton film. Menonton film adalah kegiatan yang menyenangkan, sebab film bercerita tentang kisah kehidupan yang kadang banyak dijumpai kemiripannya dengan apa yang kita alami di kehidupan nyata.

ini dia 10 film pilihan saat hujan, kencan hingga patah hati.

Saat berkencan: “50 First Dates”
Hal terburuk dalam hidup adalah kehilangan ingatan kita, baik ingatan baru ataupun lama. Tetapi bila hal terburuk yang kita alami itu dapat membawa hal yang baik, akankah menyenangkan bukan? More or less itulah yang diceritakan film ini.

Wanita mana yang tidak ingin memiliki kekasih seperti karakter yang dimainkan Adam Sandler di film ini yang melakukan segala usaha untuk membuat Drew Barrymore jatuh cinta padanya setiap hari. Dengan mengajak pasangan Anda menonton film ini di saat kencan mungkin bisa menjadi sindiran kecil padanya.

Saat sedang bosan dengan hubungan cinta: “500 Days of Summer”
Dari narasi awal film ini sudah dengan jelas mengatakan bahwa “this is not a love story”. Terkadang pada saat kita jatuh cinta pada seseorang kita menjadi naif. Kita langsung percaya bahwa he or she is the one. Dan pada saat hubungan tidak berhasil, kita akan berusaha keras untuk mencari penyebabnya. Padahal jawabannya sederhana, tidak berjodoh.

Perjalanan cinta Gordon Joseph-Levitt pada Zooey Deschannel selama 500 hari yang rumit itu sedikit banyak mirip dengan kisah cinta kita yang gagal. Tapi di sisi baiknya, semua orang pasti akan merasakan cinta dan akan bertemu dengan jodohnya, termasuk mereka yang selalu sinis terhadap romansa.

Usai putus cinta: “Addicted to Love”
Setelah hubungan berakhir terkadang ada rasa ingin sedikit balas dendam pada mantan pasangan karena telah membuat kita sakit hati, apalagi bila si mantan sudah punya pasangan baru.

Film ini bercerita tentang Meg Ryan yang awalnya berencana untuk mendapatkan mantannya kembali dan berujung balas dendam pada mantan pasangannya dan pada akhirnya malah menemukan cinta baru di dalam proses balas dendamnya.

Kita tidak pernah tahu kapan Cupid akan menembakkan panah cintanya pada kita kan? Film ini membantu untuk membuat kita tetap menjaga harapan di dalam hati kita bahwa kita akan menemukan pasangan yang lebih baik untuk kita suatu hari nanti.

Film untuk membuat kita tegar: “Eternal Sunshine of the Spotless Mind”
Film ini bisa sangat menyayat hati. Terkadang kita sangat mencintai seseorang yang kita tahu tidak baik untuk kita. Sulit untuk menolak dan melupakan orang itu. Rumitnya masalah cinta adalah, kita mungkin bisa menghapus memori, tapi tidak semudah itu menghapus perasaan kita.

Pesan moral dari cerita ini: sakit karena mengalami patah hati adalah proses yang harus dihadapi dalam hidup, suka ataupun tidak. Kita tidak bisa menghindarinya, tidak bisa menghapusnya, hanya perlu waktu untuk menjalaninya.

Usai mengalami hari yang menyebalkan: “Despicable Me”
Tidak perlu penjelasan panjang, film ini sangat menghibur. Setelah melewati hari yang melelahkan dan kurang menyenangkan, tertawalah dengan kekonyolan para minion di film ini. Seketika, mood Anda akan membaik dan Anda kembali bersemangat.

Di saat kita butuh inspirasi: “Pay It Forward”
Film ini bercerita tentang sebuah gerakan melakukan kebaikan, di mana jika seseorang membantu tiga orang melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang-orang itu, dan penerima kebaikan tidak boleh membalas budi pada orang yang membantunya melainkan dengan melakukan kebaikan lagi kepada tiga orang lainnya. Satu ide kecil dapat membawa perubahan besar pada manusia.

Wajib ditonton bersama sahabat wanita: “Sex and The City”
Pertemanan antara Carrie, Samantha, Miranda dan Charlotte dalam film ini dapat kita refleksikan sedikit banyak dalam pertemanan bersama sahabat wanita. Selain itu, wardrobe film ini selalu mengundang decak kagum para wanita jadi tidak perlu alasan lain lagi untuk tidak menontonnya bersama dengan para sahabat wanita kita ‘kan?

Film saat hari hujan atau mendung: “Serendipity”
Saya penggemar film romantis. Paling tepat menonton film jenis ini bagi saya adalah saat hujan rintik atau mendung. Cuaca ini mendukung visualisasi saya akan fantasi tentang romansa.

Bertemu dengan orang yang asing dengan cara yang menarik, lalu muncul insting bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama, selalu menjadi fantasi setiap wanita. Walau tetap ada hambatan yang harus dilalui tetapi film ini seperti ingin menunjukkan kebenaran pepatah yang mengatakan, “ketika kita bertemu dengan jodoh kita, kita pasti akan tahu.”

Saat sedang butuh “me time”: Film-film “Harry Potter”
Saya sangat suka dengan mitos dunia sihir, bahkan sejak kecil saya mendambakan untuk memiliki kemampuan menyihir. Cerita Harry Potter langsung membuat saya jatuh cinta setelah membaca buku-bukunya, sehingga menonton filmnya berulangkali menjadi guilty pleasure tiap kali ingin waktu untuk diri sendiri.

Saat sedang kumpul keluarga: “Click”
Film saat sedang bersama keluarga tak harus tentang anak kecil dan keluarga yang selalu terlihat bahagia. Sebab pada dasarnya kita sering mengeluh berbagai hal tentang hidup. Seandainya ada tombol stop, flash back dan fast forward dalam hidup, rasanya hidup akan lebih mudah.
Dibutakan oleh keinginan ini, kita menjadi lupa bahwa setiap momen dalam hidup sangatlah penting. Jangan sampai kita melewatkannya, dan penyesalan akan datang pada saat kita tua nanti.

www.id.omg.yahoo.com

CHRISTIANITY

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)

I. Visi DAN MISI.
A. PENGERTIAN VISI.
KATA VISI BERASAL DARI BHS. LATIN VIDERE, VISIO, (bhs. Inggris Vision) YANG BERARTI ; “MELIHAT” PENGLIHATAN” DAN IMPIAN. Dari segi leksikal visi mempunyai arti : (1) Kemampuan untuk melihat (2) penglihatan (3) Kemampuan untuk membayangkan dan menyiapkannya bagi masa depan (4) melihat lebih dahulu (5) kemampuan memahami hal-hal yang abstak dan tidak kelihatan seolah-olah kelihatan (6) penglihatan seperti dalam mimpi atau visium, misalnya menangkap wahyu atau ramalan (7) konsep atau antisipasi yang bersifat tetapi hidup.
B. MISI
Kata Misi berasal dari bhs latin MISSIO, MITTERE ( Inggris Mission) yang berati “Pengutusan” atau “Mengutus” (pengiriman atau pengutusan). Secara Leksikon kata ini memiliki arti, (1) Orang atau kelompok yang melakukan pelayanan (2) tugas atau tujuan pelayanan (3) pengutusan orang atau kelompok oleh orang yang berwenang untuk melakukan pelayanan khusus (4) bangunan yang digunakan untuk satu pelayanan (5) kelompok religius tanpa suatu tempat tinggal tertentu (6) sebuah panggilan khusus.
Secara khusus kita mengartikan misi dengan tugas pelayanan yang mesti dilaksanakan seseorang atau satu lembaga, yang diyakini sebagai bagian integral serta aktualisasi dari ajaran agamanya.

Visi dan Misi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, dan selalu berhubungan. Visi akan kehilangan arti jika tidak diimplementasikan dalam Misi; sebaliknya misi yang dilaksanakan tanpa visi menyebabkan misi itu dangkal, tanpa arah.

C. MOTTO
Kata Motto berasal dari bahasa Italia yang berarti “kata” atau “swemboyan”. Motto adalah kata atau kalimat pendek yang dipakai sebagai dasar tuntunan, pegangan, patokan, atau intisari sebuah usaha.

D. VISI dan MISI dari Sudut TEOLOGIS
Amsal 29:18 , menyebutkan “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat”. Kalau tidak ada visi, pandangan, impian, maka manusia kehilangan arah. Dalam kaitan dengan pemberian Roh Kudus kepada umat-Nya, maka dinubutkan ‘taruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan’ dan ‘orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi’ (Kis. 2:17).
Visi timbul dari penghayataan akan maksud Allah Bagi dunia ini dan bagi gereja-Nya, lalu dengan rela, dan mau menyerahkan diri mengambil bagian di dalamnya.
Visi juga timbul dari penghayatan akan adanya kebutuhan dan tantangan yang dihadapi, dan mau memberi respons secara konkrit terhadapnya.
Dalam pelaksanaan visi dan misi perlu : KERJA KERAS, TEKUN DAN TABAH DALAM MENGHADAPI BERBAGAI TANTANGAN, DAN MELAYANI DENGAN KERENDAHAN DIRI DAN SETIA DALAM BERHARAP KEPADA TUHAN.
Dasar dan hakekat visi dan misi Kristen, berkaitan dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa dan tawaran keselamatan dari Kristus Yesus dengan amanat klhusus kepada Gereja untuk meneruskan dan mengujudkan Injil Keselamatan ditengah-tengah kehidupan bangsa-bangsa.
E. Dari Sudut SOSIOFILOSIFIS
Kata sosiologi, dari bhs latin “Socius” artinya berteman, berkawan, bersaudara (Sosiologi, ilmu berteman, bermasyarakat). Manusia adalah mahluk sosial, artinya “bergantung, dan tidak bisa hidup sendiri”. Bergantung pada Tuhan, sesama dan lingkungan. Arti lebih luas saling membutuhkan. Manusia tidak menjadi penonton dari suatu entitas, tetapi menuntutnya untuk terlibat dalam masyarakat, lingkungannya.
Sesama dalam masyarakat bukanlah sekedar teman, tetapi lebih dari itu (lihat Amsal 17:17 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” ). Artinya kehadiran orang lain sangat penting bagi perkembangan dari sesama.

A. AGAMA

Pada umumnya semua manusia adalah umat beragama (mengaku adanya Tuhan). Agama tidak sesuatu yang ada dengan sendirinya, agama yang ada pada manusia sifatnya evolusi, dan tidak lepas dari zaman dan budaya. Untuk memahami agama, kita perlu memahami latar belakang dan pengertiannya.
1. Pengertian Agama.
a. Secara etimologi, ada dua pandangan; A = tidak, GAMA = kacau. Agama tidak kacau. Agama dijalankan manusia dengan harapan bahwa dengan agama itu manusia akan hidup dalam tenteraman lahir maupun batin. Pandangan kedua agama terdiri dari tiga suku kata A = tidak, GAM tidak pergi, A = abadi (sifatnya internality) Agama artinya abadi, kekal, tidak hilang.
Menurut Sidi Gazalba, akar kata agama = Gama = Jalan.
Hindu jalan ke Nirwana
Islam : syarat thariqah, ahirathal mustaqim “jalan lurus”
Cina : Tao = Jalan
Jepang : Shinto = jalan
Buhda : Delapan Jalan
Kristen : Yesus menyebut dirinya ‘Akulah jalan’
b. Dari sudut bahasa agama (religion), dari bahasa latin dari kata “relegio, yang diambil dari kata “religere” yang artinya “to bind together” diikat, mengingat bersama (melalui agama individu-individu diikat bersama). Religi, ikatan yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah yang ilahi. Religere; memperhatikan dengan seksama, rasa takut terhadap yang ilahi dan sebagainya (memperhatikan dengan sungguh-sungguh ajaran/Firman Allah). Secara system agama adalah system kepercayaan, sikap praktek yang dilakukan manusia kepada Allah (yang disembah). System penyembahan itu dapat dilihat dari perpestif Samawi (agama dari atas, Allah menyatakan dirinya kepada sehingga manusia mengenal Allah), dan Wadii (agama dari bawah, dari budaya berkembang menjadi agama). Dalam konteks Indonesia :
SAMAWI dari Atas WADII dari Bawah
ISLAM
KRISTEN/ KATOLIK
HINDU
BUDHA

c. Menurut kamus umum bahasa Indonesia, agama adalah segenap kepercayaan kepada Tuhan, Dewa dsb. Serta dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. Unsur-unsur dealam agama; system kepercayaan (system ajaran), peribadatan, ritual, norma, etika, serta komunitas religius yang menganut system tersebut.

d. Pengertian Sosiologi
Agama dari sudut sosiologi ialah suatu system sosial (fenomena sosial) yang diparaktekkan boleh penganut-penganutnya yang mempercayakan dirinya terhadap satu kekuatan tertentu (yang bersifat supranatural atau non-empiris yang disebut ‘Allah’) dan didaya gunakan untuk mencapai keselamatan bagi dirinya dan bagi masyarakat luas umumnya.

e. Antropologi
Agama dimengerti sebagai produksi manusia. Manusia membuat agama supaya melaluinya manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan masyarakat lainnya. Untuk itu manusia membuat ritus-ritus, upacara-upacara tertentu, symbol-symbol agar melaluinya manusia dapat menyesuaikan diri dengan berbagai dunia dan relasinya.

f. Psikologi
Dari sudut psikologi, menurut Sigmun Freud, agama dipahami sebagai ciptaan manusia. Manusia diperlengkapi dengan insting, ingin hidup enak, aman, bahagia dan damai, tetapi di sisi lain ada bahaya, kesulitan dan kematian yang mengancam hidup manusia. Upaya untuk mengatasi hal-hal tersebut di atas manusia menciptakan agama. Agama merupakan suatu ilusi (harapan) bagi manusia yang tidak berdaya menghadapi realita hidup yang tidak ramah.

g. Dari Sudut Teologis
Menurut Scleiermacher (1768-1934), mengatakan orang beragama, karena ada perasaan serba tergantung dari manusia terhadap kekuatan dari Sang penguasa tertinggi (Allah). Juga dalam diri manusia ada kerinduan untuk menjadi semirip mungkin (serupa) dengan Allah . hal ini berkembang menjadi agama.

2. PERCAYA.
3. FUNGSI AGAMA

Ada beberapa fungsi agama dalam kehidupan manusia :
a. Fungsi Pendidikan dan pengajaran.
Sebagai pengajaran dan pendidikan, agama meletakkan nilai-nilai rohani yang merupakan pokok-pokok kepercayaan/agama, sehingga manusia mengerti makna dan tujuan hidupnya, serta memiliki hati nurani, kesadaran etik moral dan rasa tanggung jawab akan segala hukum, aturan yang dijalankan dalam hidupnya dengan cinta kasih kepada Allah dan sesamanya.
b. Fungsi penyelamatan
Pada umumnya semua manusia menginginkan keselamatan baik sekarang, dan nanti di akhirat. Di sisi lain manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Jaminan untuk mencapai cita-cita tertinggi (keselamatan) itu ditemukan dalam agama. Agama menawarkan dan mengajarkan tentang keselamatan , serta memberikan jaminan dan cara yang khas untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam nhidup manusia.

c. Fungsi Pengawasan Sosial.
Pada umumnya manusia mempunyai keyakinan yang sama bahwa kesejahteraan pribadi dan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kesetiaannya kepada kaidah-kaidah susila dan hukum-hukum yang ada dalam masyarakat. Penyelewengan terhadap norma –norma susila dan peraturan akan mendatangkan malapetaka deannkesusahan dalam masyarakat dan dunia ini. Agama berfungsi sebagai pengawas tingkah laku dalam masyarakat melalui ajaran-ajarannya yang khas yaitu hidup sesuai dengan kehendak Allah dan firman-Nya.
d. Memupuk Tali Persaudaraan
Kita akui banyak perdamaian dan persaudaraan yang diakibatkan oleh agama, melalui dialog antar umat beragama. Apa isi dialog itu ?
– Tuhan itu Esa
– Manusia semua ciptaan Tuhan
– Semua manusia mendambakan hidup damai sejahtera
– Pancasila.

Hal lain untuk mengikat tali persaudaraan melalui Sejarah Agama
Islam Kristen
Ibrahim Abraham = Sama
Sara Sarai = Sama
Hazar Hagar = Sama
Dari sejarah adalah saudara, sama-sama keturunan Abraham/Ibrahim.
Melalui dialog dirasakan ada kesatuan di dalam Tuhan, dan sama-sama mendambakan keselamatan dan pada hakekatnya semua mendambakan keselamatan di bumi dan di akhirat, dan damai sejahtera.

e. Fungsi Transformatif
Fungsi transformatif, berarti mengubah kehidupan yang lama, kepada kehidupan yang baru (mengganti nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru, positif, baik). Misalnya kebiasaan, sikap, perilaku yang tidak baik, diganti dengan perilaku yang baru/baik. Fungsi transformatif yang lebih luas, membaharui, mengubah dunia ini (kegelapan, kejahatan) kepada kehidupan yang lebih baik dan berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan Allah.
Dari pengertian dan fungsi-fungsi di atas, dapat kita simpulkan, agama sangat penting dalam kehidupan manusia sebab :
• Agama, adalah kepercayaan kepada Allah, dan pengakuan atas kuasa yang supernatural, yang mengatur hubungan antara Allah dan manusia dan sesamanya, lingkungan dan menyatukan
• Mencegah perilaku yang menyimpang dalam masyarakat (stabilisator dalam masyarakat)
• Agama mkenyajikan dukungan moral dalam menghadapi ketidak pastian.
• Agama memenuhi kebutuhan manusia, dan merupakan tenaga/kekuatan yang menuntun manusia taat dan menaati aturan-aturan
• Keinginan dan sarana untuk keselamqtan.
Agama adalah proses pembelajaran yang terus menerus sepanjang hayat agar dapat membentuk kepribadian yang utuh. Bukan sekedar pembelajaran tetapi praktisnya.

Curriculum & Material Development

DEFINITIONS OF CURRICULUM

OLD DEFINITIONS & NEW DEFINITIONS

OLD DEFINITION
CURRICULUM is a set of subjects to be completed by the students in order to get certificate
Implications of old definition
Curriculum contains a set of courses.
A course is a set of information or knowledge given to students to form their intelligence.
A course passes cultures. Therefore, teaching means conveying cultures to young generations.
The goal of learning is to get a certificate.

It is compulsory for all students to learn all courses. As a result, students’ needs are not considered in developing the curriculum.
Teachers are the main subjects of the teaching and learning. Therefore, teachers are active while students are passive.

NEW DEFINITION
Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or not.
Implications of the new definition
The understanding of curriculum is wider. Curriculum does not only contain courses but also all the activities and experiences under the responsibility of the school.
Therefore, curriculum include both intracurricular and extracurricular courses.
Courses take place in or out the classroom.
Implications of the new definition
The teaching is designed in such away that it can be close to the real situation of the lesson. Therefore, the lessons should be modified based on the students’ situation.
The purpose of education is not to convey knowledge to students but to shape students’ personality and their way of life in the society.

FUNCTIONS

1. The Adjustive of Adaptive Function.
Curriculum is a tool of education to make students able to adjust to the environment.
2. The Integrating Function
Students must be able to integrate themselves to the society to build a society.
3. The Differentiating Function
Curriculum serves differences in society. Basically, differences force people to think critically and motivate development in society.
4. The Propaedeutic Function (Preparation)
Curriculum encourages and prepare for long life learning.
5. The Selective Function
Admitting differences makes curriculum opens for selections. Students can choose the field they are good or interested in.
6. The Diagnostic Function
One of the education services is to help students understand themselves so that they can develop themselves based on their potentials.

Semantics

What is semantics?

Semantics is the study of meaning. It is a wide subject within the general study of language. An understanding of semantics is essential to the study of language acquisition (how language users acquire a sense of meaning, as speakers and writers, listeners and readers) and of language change (how meanings alter over time). It is important for understanding language in social contexts, as these are likely to affect meaning, and for understanding varieties of English and effects of style. It is thus one of the most fundamental concepts in linguistics. The study of semantics includes the study of how meaning is constructed, interpreted, clarified, obscured, illustrated, simplified negotiated, contradicted and paraphrased.

Some important areas of semantic theory or related subjects include these:

  • Words and lexemes
  • Synonym, antonym and hyponym
  • Polysemy
  • Homonymy, homophones and homographs

You will find explanations below of how each of these relates to the theoretical study of semantics.

Words and lexemes

As a lexical unit may contain more than one word, David Crystal has coined the term lexeme. This is usually a single word, but may be a phrase in which the meaning belongs to the whole rather than its parts, as in verb phrases tune in, turn on, drop out or noun phrase (a) cock up.

Synonym, antonym and hyponym

Synonym and antonym are forms of Greek nouns which mean, respectively, “same name” and “opposed (or different) name”. We may find synonyms which have an identical reference meaning, but since they have differing connotations, they can never be truly synonymous. This is particularly the case when words acquire strong connotations of approval (amelioration) or disapproval (pejoration). We can see this by comparing terrorist with freedom fighter or agnostic (Greek) with ignoramus (Latin). Both of the latter terms express the meaning of a person who does not know (something). A pair which remains more truly synonymous (but might alter) would be sympathy (Greek) and compassion (Latin). Both mean “with [= having or showing] feeling”, as in the English equivalent, fellow feeling.

Some speakers will not be aware of synonyms, so cannot make a choice. But those with a wide lexicon will often choose between two, or among many, possible synonyms. This is an area of interest to semanticists. What are the differences of meaning in toilet, lavatory, WC, closet, privy, bog, dunny and so on?

Intelligent reflection on the lexicon will show that most words do not have antonyms. When Baldric, in BBC TV’s Blackadder, attempts to write a dictionary he defines cat as “not a dog” – but the two are not antonyms. A cat is not a fish, banana, rainbow or planet, either – it is not anything, but a cat! We can contrast simple pairs like fat/thin but realize that both are relative to an assumed norm. Such lexeme pairs (for example: big/little, clever/stupid, brave/cowardly, hot/cold and beautiful/ugly) are gradable antonyms . True and false may show a clearer contrast. Clear either/or conditions are expressed by complementary antonyms: open/closed, dead/alive, on/off. Another kind (not really opposites at all) are pairs which go together, and represent two sides of a relation: these are converses or relational antonyms. Examples would be husband/wife, borrow/lend, murderer/victim, plaintiff/defendant.

Hyponymy is an inclusive relationship where some lexemes are co-hyponyms of another that includes them. As cutlery includes knife, fork, spoon (but not teacup) these are co-hyponyms of the parent or superordinating term. This traditional term denotes a grouping similar to a semantic field. So cod, guppy, salmon and trout are hyponyms for fish, while fleet has the hyponyms battleship, aircraft carrier, cruiser, destroyer and frigate.

Polysemy

Polysemy (or polysemia) is an intimidating compound noun for a basic language feature. The name comes from Greek poly (many) and semy (to do with meaning, as in semantics). Polysemy is also called radiation or multiplication. This happens when a lexeme acquires a wider range of meanings.

For example, paper comes from Greek papyrus. Originally it referred to writing material made from the papyrus reeds of the Nile, later to other writing materials, and now to things such as government documents, scientific reports, family archives or newspapers.

Homonymy, homophones and homographs

Homonyms are different lexemes with the same form (written, spoken or both). For example, bank is both an elevated area of ground and a place or business where money is kept. You may think these are the same words, but this is not so, since the meaning is an essential feature of a word. In some cases, the same form (as with paper) has the same origin but this will not always be the case. The etymology of a lexeme will tell us where it comes from and how it acquired a given meaning.

Identity of form may apply to speech or writing only. David Crystal calls these forms “half” identical. They are:

  • Homophones – where the pronunciation is the same (or close, allowing for such phonological variation as comes from accent) but standard spelling differs, as in flew (from fly), flu (“influenza”) and flue (of a chimney).
  • Homographs – where the standard spelling is the same, but the pronunciation differs, as in wind (air movement or bend) or refuse (“rubbish” or “disallow”, stress falls on first and second syllable, respectively).

http://www.teachit.co.uk/armoore/lang/semantics.htm