CHRISTIANITY

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)

I. Visi DAN MISI.
A. PENGERTIAN VISI.
KATA VISI BERASAL DARI BHS. LATIN VIDERE, VISIO, (bhs. Inggris Vision) YANG BERARTI ; “MELIHAT” PENGLIHATAN” DAN IMPIAN. Dari segi leksikal visi mempunyai arti : (1) Kemampuan untuk melihat (2) penglihatan (3) Kemampuan untuk membayangkan dan menyiapkannya bagi masa depan (4) melihat lebih dahulu (5) kemampuan memahami hal-hal yang abstak dan tidak kelihatan seolah-olah kelihatan (6) penglihatan seperti dalam mimpi atau visium, misalnya menangkap wahyu atau ramalan (7) konsep atau antisipasi yang bersifat tetapi hidup.
B. MISI
Kata Misi berasal dari bhs latin MISSIO, MITTERE ( Inggris Mission) yang berati “Pengutusan” atau “Mengutus” (pengiriman atau pengutusan). Secara Leksikon kata ini memiliki arti, (1) Orang atau kelompok yang melakukan pelayanan (2) tugas atau tujuan pelayanan (3) pengutusan orang atau kelompok oleh orang yang berwenang untuk melakukan pelayanan khusus (4) bangunan yang digunakan untuk satu pelayanan (5) kelompok religius tanpa suatu tempat tinggal tertentu (6) sebuah panggilan khusus.
Secara khusus kita mengartikan misi dengan tugas pelayanan yang mesti dilaksanakan seseorang atau satu lembaga, yang diyakini sebagai bagian integral serta aktualisasi dari ajaran agamanya.

Visi dan Misi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, dan selalu berhubungan. Visi akan kehilangan arti jika tidak diimplementasikan dalam Misi; sebaliknya misi yang dilaksanakan tanpa visi menyebabkan misi itu dangkal, tanpa arah.

C. MOTTO
Kata Motto berasal dari bahasa Italia yang berarti “kata” atau “swemboyan”. Motto adalah kata atau kalimat pendek yang dipakai sebagai dasar tuntunan, pegangan, patokan, atau intisari sebuah usaha.

D. VISI dan MISI dari Sudut TEOLOGIS
Amsal 29:18 , menyebutkan “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat”. Kalau tidak ada visi, pandangan, impian, maka manusia kehilangan arah. Dalam kaitan dengan pemberian Roh Kudus kepada umat-Nya, maka dinubutkan ‘taruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan’ dan ‘orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi’ (Kis. 2:17).
Visi timbul dari penghayataan akan maksud Allah Bagi dunia ini dan bagi gereja-Nya, lalu dengan rela, dan mau menyerahkan diri mengambil bagian di dalamnya.
Visi juga timbul dari penghayatan akan adanya kebutuhan dan tantangan yang dihadapi, dan mau memberi respons secara konkrit terhadapnya.
Dalam pelaksanaan visi dan misi perlu : KERJA KERAS, TEKUN DAN TABAH DALAM MENGHADAPI BERBAGAI TANTANGAN, DAN MELAYANI DENGAN KERENDAHAN DIRI DAN SETIA DALAM BERHARAP KEPADA TUHAN.
Dasar dan hakekat visi dan misi Kristen, berkaitan dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa dan tawaran keselamatan dari Kristus Yesus dengan amanat klhusus kepada Gereja untuk meneruskan dan mengujudkan Injil Keselamatan ditengah-tengah kehidupan bangsa-bangsa.
E. Dari Sudut SOSIOFILOSIFIS
Kata sosiologi, dari bhs latin “Socius” artinya berteman, berkawan, bersaudara (Sosiologi, ilmu berteman, bermasyarakat). Manusia adalah mahluk sosial, artinya “bergantung, dan tidak bisa hidup sendiri”. Bergantung pada Tuhan, sesama dan lingkungan. Arti lebih luas saling membutuhkan. Manusia tidak menjadi penonton dari suatu entitas, tetapi menuntutnya untuk terlibat dalam masyarakat, lingkungannya.
Sesama dalam masyarakat bukanlah sekedar teman, tetapi lebih dari itu (lihat Amsal 17:17 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” ). Artinya kehadiran orang lain sangat penting bagi perkembangan dari sesama.

A. AGAMA

Pada umumnya semua manusia adalah umat beragama (mengaku adanya Tuhan). Agama tidak sesuatu yang ada dengan sendirinya, agama yang ada pada manusia sifatnya evolusi, dan tidak lepas dari zaman dan budaya. Untuk memahami agama, kita perlu memahami latar belakang dan pengertiannya.
1. Pengertian Agama.
a. Secara etimologi, ada dua pandangan; A = tidak, GAMA = kacau. Agama tidak kacau. Agama dijalankan manusia dengan harapan bahwa dengan agama itu manusia akan hidup dalam tenteraman lahir maupun batin. Pandangan kedua agama terdiri dari tiga suku kata A = tidak, GAM tidak pergi, A = abadi (sifatnya internality) Agama artinya abadi, kekal, tidak hilang.
Menurut Sidi Gazalba, akar kata agama = Gama = Jalan.
Hindu jalan ke Nirwana
Islam : syarat thariqah, ahirathal mustaqim “jalan lurus”
Cina : Tao = Jalan
Jepang : Shinto = jalan
Buhda : Delapan Jalan
Kristen : Yesus menyebut dirinya ‘Akulah jalan’
b. Dari sudut bahasa agama (religion), dari bahasa latin dari kata “relegio, yang diambil dari kata “religere” yang artinya “to bind together” diikat, mengingat bersama (melalui agama individu-individu diikat bersama). Religi, ikatan yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah yang ilahi. Religere; memperhatikan dengan seksama, rasa takut terhadap yang ilahi dan sebagainya (memperhatikan dengan sungguh-sungguh ajaran/Firman Allah). Secara system agama adalah system kepercayaan, sikap praktek yang dilakukan manusia kepada Allah (yang disembah). System penyembahan itu dapat dilihat dari perpestif Samawi (agama dari atas, Allah menyatakan dirinya kepada sehingga manusia mengenal Allah), dan Wadii (agama dari bawah, dari budaya berkembang menjadi agama). Dalam konteks Indonesia :
SAMAWI dari Atas WADII dari Bawah
ISLAM
KRISTEN/ KATOLIK
HINDU
BUDHA

c. Menurut kamus umum bahasa Indonesia, agama adalah segenap kepercayaan kepada Tuhan, Dewa dsb. Serta dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. Unsur-unsur dealam agama; system kepercayaan (system ajaran), peribadatan, ritual, norma, etika, serta komunitas religius yang menganut system tersebut.

d. Pengertian Sosiologi
Agama dari sudut sosiologi ialah suatu system sosial (fenomena sosial) yang diparaktekkan boleh penganut-penganutnya yang mempercayakan dirinya terhadap satu kekuatan tertentu (yang bersifat supranatural atau non-empiris yang disebut ‘Allah’) dan didaya gunakan untuk mencapai keselamatan bagi dirinya dan bagi masyarakat luas umumnya.

e. Antropologi
Agama dimengerti sebagai produksi manusia. Manusia membuat agama supaya melaluinya manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan masyarakat lainnya. Untuk itu manusia membuat ritus-ritus, upacara-upacara tertentu, symbol-symbol agar melaluinya manusia dapat menyesuaikan diri dengan berbagai dunia dan relasinya.

f. Psikologi
Dari sudut psikologi, menurut Sigmun Freud, agama dipahami sebagai ciptaan manusia. Manusia diperlengkapi dengan insting, ingin hidup enak, aman, bahagia dan damai, tetapi di sisi lain ada bahaya, kesulitan dan kematian yang mengancam hidup manusia. Upaya untuk mengatasi hal-hal tersebut di atas manusia menciptakan agama. Agama merupakan suatu ilusi (harapan) bagi manusia yang tidak berdaya menghadapi realita hidup yang tidak ramah.

g. Dari Sudut Teologis
Menurut Scleiermacher (1768-1934), mengatakan orang beragama, karena ada perasaan serba tergantung dari manusia terhadap kekuatan dari Sang penguasa tertinggi (Allah). Juga dalam diri manusia ada kerinduan untuk menjadi semirip mungkin (serupa) dengan Allah . hal ini berkembang menjadi agama.

2. PERCAYA.
3. FUNGSI AGAMA

Ada beberapa fungsi agama dalam kehidupan manusia :
a. Fungsi Pendidikan dan pengajaran.
Sebagai pengajaran dan pendidikan, agama meletakkan nilai-nilai rohani yang merupakan pokok-pokok kepercayaan/agama, sehingga manusia mengerti makna dan tujuan hidupnya, serta memiliki hati nurani, kesadaran etik moral dan rasa tanggung jawab akan segala hukum, aturan yang dijalankan dalam hidupnya dengan cinta kasih kepada Allah dan sesamanya.
b. Fungsi penyelamatan
Pada umumnya semua manusia menginginkan keselamatan baik sekarang, dan nanti di akhirat. Di sisi lain manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Jaminan untuk mencapai cita-cita tertinggi (keselamatan) itu ditemukan dalam agama. Agama menawarkan dan mengajarkan tentang keselamatan , serta memberikan jaminan dan cara yang khas untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam nhidup manusia.

c. Fungsi Pengawasan Sosial.
Pada umumnya manusia mempunyai keyakinan yang sama bahwa kesejahteraan pribadi dan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kesetiaannya kepada kaidah-kaidah susila dan hukum-hukum yang ada dalam masyarakat. Penyelewengan terhadap norma –norma susila dan peraturan akan mendatangkan malapetaka deannkesusahan dalam masyarakat dan dunia ini. Agama berfungsi sebagai pengawas tingkah laku dalam masyarakat melalui ajaran-ajarannya yang khas yaitu hidup sesuai dengan kehendak Allah dan firman-Nya.
d. Memupuk Tali Persaudaraan
Kita akui banyak perdamaian dan persaudaraan yang diakibatkan oleh agama, melalui dialog antar umat beragama. Apa isi dialog itu ?
– Tuhan itu Esa
– Manusia semua ciptaan Tuhan
– Semua manusia mendambakan hidup damai sejahtera
– Pancasila.

Hal lain untuk mengikat tali persaudaraan melalui Sejarah Agama
Islam Kristen
Ibrahim Abraham = Sama
Sara Sarai = Sama
Hazar Hagar = Sama
Dari sejarah adalah saudara, sama-sama keturunan Abraham/Ibrahim.
Melalui dialog dirasakan ada kesatuan di dalam Tuhan, dan sama-sama mendambakan keselamatan dan pada hakekatnya semua mendambakan keselamatan di bumi dan di akhirat, dan damai sejahtera.

e. Fungsi Transformatif
Fungsi transformatif, berarti mengubah kehidupan yang lama, kepada kehidupan yang baru (mengganti nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru, positif, baik). Misalnya kebiasaan, sikap, perilaku yang tidak baik, diganti dengan perilaku yang baru/baik. Fungsi transformatif yang lebih luas, membaharui, mengubah dunia ini (kegelapan, kejahatan) kepada kehidupan yang lebih baik dan berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan Allah.
Dari pengertian dan fungsi-fungsi di atas, dapat kita simpulkan, agama sangat penting dalam kehidupan manusia sebab :
• Agama, adalah kepercayaan kepada Allah, dan pengakuan atas kuasa yang supernatural, yang mengatur hubungan antara Allah dan manusia dan sesamanya, lingkungan dan menyatukan
• Mencegah perilaku yang menyimpang dalam masyarakat (stabilisator dalam masyarakat)
• Agama mkenyajikan dukungan moral dalam menghadapi ketidak pastian.
• Agama memenuhi kebutuhan manusia, dan merupakan tenaga/kekuatan yang menuntun manusia taat dan menaati aturan-aturan
• Keinginan dan sarana untuk keselamqtan.
Agama adalah proses pembelajaran yang terus menerus sepanjang hayat agar dapat membentuk kepribadian yang utuh. Bukan sekedar pembelajaran tetapi praktisnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s